Tugas Psikologi Pendidikan (PPD)

Learning Log Konsep Dasar Perilaku

Konsep Perilaku Individu (Pengertian, Jenis, teori, mekanisme perilaku dan peran pendidikan untuk perubahan perilaku)
1. Peranan, Tugas dan Tanggung Jawab seorang Guru sebagai pendidik dan pengajar serta kaitannya dengan konsep dasar perilaku

a. Dalam arti yang luas pendidikan dapat mencakup seluruh proses hidup dan segenap bentuk interaksi individu dengan lingkunganya, baik secara formal , nonformal, maupun informal, dalam rangka mewujudkan dirinya sesuai dengan tahapan tugas perkembangannya secara optimal sehingga ia mencapai taraf kedewasaan tertentu. Dalam konteks pendididikan formal, nonformal dan informal, seorang guru yang ideal dapat bertugas dan berperan, antara lain sebagai :
1. Konservator (pemelihara) system nilai yang merupakan sumber norma kedewasaan dan innovator (pengembang) system nilai ilmu pengetahuan;
2. Transmitor (penerus) system-sistem niali tersebut kepada sasaran didik;
3. Transformator (penerjemah) sistem-sistem nilai tersebut melalui penjelmaan dalam pribadinya dan perilakunya melalui proses interaksinya dengan sasaran didik;
4. Organisator (penyelanggara) terciptanya proses edukatif yang dapat dipertanggungjawabkan baik secara formal kepada pihak yang mengangkat dan menugaskannya) maupun secara moral (kepada sasaran didik, serta Tuhan yang menciptakannya.

b. Dalam arti yang terbatas, pendidikan dapat merupakan salah satu proses interaksi belajar-mengajar dalam bentuk formal yang dikenal sebagai pengajaran (instructional). Gage dan Berliner, antara lain, menjelaskan bahwa dalam konteks ini guru berperan, bertugas, dan bertangggung jawab sebagai :
1) Perencana (planner) yang harus mempersiapkan apa yang akan dilakukan didalam proses belajar mengajar (pre-teaching problems);
2) Pelaksana (organizer) yang harus menciptakan situasi, memimpin, merangsang, menggerakan, dan mengarahkan kegiatan belajar mengajar sesuai dengan rencana; ia bertindak sebagai orang sumber (resource person), konsultan kepemimpinan (leader) yang bijaksana dalam arti demokratis dan humanistic (manusiawi) selama proses berlangsung (during teaching problems) ;
3) Penilai (elevator) yang harus mengumpulkan, menganalisis, menafsirkan dan akhirnya harus memberikan pertimbangan (judgement) atas tingkat keberhasilan belajar mengajar (PBM) tersebut berdasarkan criteria yang ditetapkan baik mengenai aspek keefektifan prosesnya maupun kualifikasi produk (output)-nya.

c. Mengenai pendapat Gage dan Berliner itu untuk konteks Indonesia (berdasarkan Kurikulum 1975 dan 1994) antara lain tugas guru sebagai pengubah perilaku (behavioral changes) peserta didik. Berkenaan dengan pengertian atau konsep dasar perilaku ini terdapat beberapa aliran pandangan (paham), antara lain yang dikenal sebagai paham holism dan behavioralisme. Paham Holistik menekankan bahwa perilaku itu bertujuan (purposive), yang berarti aspek intrinsic (niat, tekad, azam) dari dalam diri individu merupakan factor penentu yang penting untuk melahirkan perilaku tertentu meskipun tanpa adanya perangsang (stimulus) yang datang dari lingkungan (naturalistik). Sedangkan pandangan behavioralistik menekankan bahwa pola-pola perilaku itu dapat dibentuk melalui proses pembiasaan dan pengukuhan (reinforcement) dengan mengkondisikan stimulus (conditioning) dalam lingkungan (environmentalistik) Dengan demikian, perubahan perilaku (behavior change) sangat mungkin terjadi. Untuk konteks pendidikan, seyogianya kedua dasar pendidikan tersebut dipertimbangkan sebagai hal yang komplementer (saling mengisi dan melengkapi, karena keduanya sama penting peranannya) seperti yang dijelaskan oleh William Stern dengan Teori Konvergesinya.

d. Atas dasar keterangan diatas , mekanisme proses terjadi dan berlangsungnya suatu perilaku itu dapat dijelaskan secara visual sebagai berikut

S=stimulus (perangsang); R=respons (perilaku, aktivitas); dan O=Organisme individu manusia berlkaku juga makhluk organic lainnya). Karena S datang dari lingkungan (W=World) dan R juga ditujukan kepadanya, gambaran visual tersebut dapat dilengkapkan sebagai berikut

Yang dimaksud dengan lingkungan (W) disini dapat diartikan sebagai berikut
(a) Lingkungan Objektif (umgebug = segala sesuatu yang ada disekitar individu dan secara potensial dapat melahirkan S).
(b) Lingkungan efektif (segala sesuatu yang actual merangsang organisme karena sesuai dengan dunia pribadinya (W = unwelt sehingga menimbulkan kesadaran tertentu pada diri O dan ia merespon (R) terhadapnya).
Dengan demikian, perilaku sadar secara lengkap dapat digambarkan sebagai berikut.
Sedangkan gambar nomor (3) dapat melukiskan suatu perilaku spontan (yang berlangsung secara spontan).

e. Sebenarnya, ada dua kelompok komponen penting lainnya dalam diri setiap indivdu yang mempengaruhi keefetivan mekanisme proses perilaku, ialah receptors (pancaindera – radar, alat penerima stimulus) dan effectors (syarat, otot, persendian, dan sbagainya) sebagai pelaksana gerak (R) perilaku. Mekanisme perilaku sadar dan spontan dapat digambarkan sebagai berikut.


Kalau ditelaah lebih jauh penjelasan tentang mekanisme dalam paragraf diatas, akan terasa, bahwa hal itu lebih banyak diwarnai dasar pandangan aliran behaviorisme. Cara penjelasan lain, yang mungkin banyak dipengaruhi dasar pandangan Holisme, mekanisme perilaku itu dapat dijelaskan dalam konteks: apa(what), bagaimana(how) dan mengapa(why).
1) Apa (what) menunjukkan kepada tujuan (goals, incentives, purpose) apa yang hendak dicapai dengan perilaku itu.
2) Bagaimana (how) menunjukkan kepada jenis dan bentuk cara mencapai goals (tujuan tersebut), ialah perilakunya itu sendiri.
3) Mengapa (why) menunjukkan kepada motivasi yang menggerakan terjadinya dan berlangsungnya perilaku (how) itu, antara lain bersumber kepada kebutuhan-kebutuhan dasar didalam diri individu sendiri (intrinsic) atau di tantang (challenged) dari objek (incentives) itu sendiri (ekstrinsik)
Dengan demikian, pola urutan (sequence) dari mekanisme perilaku context ini dapat digambarkan sebagai berikut
<!--[if gte mso 9]> Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE

Pola urutan mekanisme itu tentu pula digambarkan secara siklus (melingkar), yang berarti bilamana kebutuhan yang serupa terasa kembali maka pola mekanisme itu akan diulang kembali (stereotype behavior).

1. Taksonomi Perilaku Manusia

Kalau perilaku mencakup segenap pernyataan hidup organisme, betapa banyaknya kata-kata yang harus digunakan untuk mendeskripsikannya. Untuk keperluan studi terhadapnya, jelas diperlukan sistematika pengelompokan berdasarkan pola kerangka berfikir (conceptual framework) tertentu, yang kita sebut sebagai taksonomi. Taksonomi perilaku yang sampai kini masih digunakan, telah mempunyai riwayat yang amat panjang. Kembali ke zaman plato dan Aristoteles yang dikenal sebgaia dikotomi (dua kategori) kemudian menjadi trikotomi (tiga kategori) ialah kognitif, afektif dan konatif atau psikomotor. Untuk maksud yang sama Ki Hajar Dewantara menggunakan istilah cipta, rasa, karsa; dan dewasa ini orang gunakan mungkin maksud serupa adalah kata-kata : penalaran, penghayatan, dan pengalaman.

Dalam konteks pendidikan, Bloom (1974) dan kawan-kawan telah merinci dan sistematikanya disusun secara meningkat, dalam rangka mengembangkan perangkat tujuan-tujuan pendidikan yang berorientasi pada perilaku (behavioral objectives) yang dapat diamati (observable) dan dapat diukur (measurable) secara ilmiah (scientific) mengenai ketiga kategori atau domain perilaku tersebut diatas. Secara garis besar taksonomi Perilaku dari Bloom itu ialah sebagai berikut

1) The Cognitive Domain (Kawasan Kognitif)

Knowledge (pengetahuan)

Comprehension (pemahaman)

Application (penerapan)

Analysis (penguraian)

Synthesis (memadukan)

2) Evaluation (penilaian)

The Affective Domain (Kawasan Afektif)

Receiving (penerimaan)

Responding (sambutan)

Valuing (penghargaan)

Organization (pengorganisasian)

Characteraziation by Value or Value complex

(karakterisasi, internalisasi, penjelmaan)

3) The Psychomotor Domain (Kawasan Konatif)

Gross Body Movement (gerakan jasmaniah biasa)

Finely Coordinated Movement (gerakan indah)

Nonverbal Communication Sets (Komunikasi nonverbal).

Speech Behavior (perilaku verbal)

2. Peranan dan Pengaruh Pendidikan terhadap perubahan dan Perkembangan Perilaku dan Pribadi Manusia

Pendidikan itu normative (bersumber pada tugas-tugas perkembangan dan criteria pendewasaan). Norma-norma itu merupakan seperangkat : pengetahuan,fakta, system nilai, prosedur dan teknik, sikap-sikap etis, estetis, social, iliah, religious, serta keterampilan dan kemahiran gerakan, tinfakan pembicaraan, dan sebagainya diruang lingkup scope) dan urutan (sequence)-nya disusun berdasarkan tahapan perkembangan sesuai dengan konteks, jenis lingkungan pendidikan yang berangkutan dan sekaligus pula merupakan perangkat criteria keberhasilannya.

Dengan menggunakan konsep dasar psikologis, khususnya dalam konteks pandangan behaviorisme, kita dapat menyatakan bahwa praktik pendidikan itu pada hakikatnya merupakan usaha conditioning (penciptaan seperangkat stimulus) yang diharapkan pula menghasilkan pola-pola perilaku (seperangkat response) tertentu. Prestasi Belajar (achievement) dalam term-term pengetahuan (penalaran), sikap (penghayatan) dan keterampilan (pengalaman) merupakan indicator-indikator atau manifestasi dari perubahan dan perkembangan perilaku termaksud.

Apakah arah (positif, negative atau meragukan) dari perubahan dan perkembangan itu serta kualifikasinya (tinggi, sedang, rendah, atau gagal / berhasil, memadai tidak memadai, lulus/tidak lulus, memuaskan/tidak memuaskan, dapat diterima/tidakberdasarkan perangakat criteria yang telah ditetapkan), jelas akan bergantung pada factor S (conditioning, pendidikan) disamping factor O (siswanya, pelajar)itu sendiri. Kontribusi pengaruh factor-faktor S (pendidikan) dan (karakteristik siswanya sendiri) dapat digambarkan dengan formal (rumusan) matematis secara fungsional (1) atau regresional (2) yang notasinya sebagai berikut

(1) P = f (S, O)

(2) P = a + b1S + b2O + E

P = person (perilaku, pribadi

F = fungsi (function)

S = Stimulus (pendidikan)

O = Organisme (karakterisme siswa)

A = konstanta (pengaruh rata-rata dari factor S dan O)

b1b2 = beta weight (bobot nilai kontribusi dari S dan O)

E = pengaruh variable lain (yang mengiringinya)



0 komentar:



Poskan Komentar